Gue mau cerita sesuatu yang agak memalukan sebagai pemilik brand tas.
Jadi gini, toko gue udah jalan hampir 5 tahun. Dulu gue bangga banget punya best seller yang selalu habis dalam hitungan hari. Sampe gue stok puluhan biji, pikir aman.
Sekarang? Tas-tas itu masih ada di gudang. Berdebu. Nggak laku-laku.
Bukan karena kualitasnya jelek. Bukan pula karena harganya kemahalan. Tapi karena tiba-tiba… Gen Z bilang model tas ini “udah nggak zaman”. Mereka sebutnya “haram” — lebay sih, tapi ya gitu deh realitanya.
Gue bingung awalnya. Kok bisa sesuatu yang dulu paling dicari, sekarang paling dijauhin?
Setelah ngobrol sama banyak pembeli (dan stalking medsos mereka), gue mulai paham polanya. Dan ternyata, pergeseran ini bukan cuma terjadi di toko gue. Banyak teman sesama pemilik brand tas lokal ngalamin hal serupa .
Nah, di artikel ini gue spill 3 model tas yang tiba-tiba “diharamkan” Gen Z. Plus gue kasih tau apa yang lagi mereka cari sekarang. Biar lo nggak buang-buang uang buat stok yang salah kayak gue.
Sebelum Mulai: Gen Z Itu Siapa dan Kenapa Mereka Begitu Cepat Berubah?
Sebelum gue sebutin modelnya, gue mau jelasin sedikit tentang target pasar kita. Karena kalau lo nggak paham konsumen, lo bakal terus-terusan ketinggalan.
Gen Z itu sekarang usia 15-27 tahun. Mereka lahir di era digital. Hidup mereka nggak bisa lepas dari TikTok, Instagram, dan X (dulu Twitter). Dan yang paling penting buat dipahami: aksesoris bukan lagi sekadar pelengkap. Buat mereka, tas, gantungan, bahkan earphone adalah bagian dari identitas diri .
“A bag is not just a bag, it is a personality board.”
Pernyataan dari Indiatimes ini gue setuju banget . Gen Z nggak beli tas cuma buat naruh barang. Mereka beli tas buat ngomongin siapa diri mereka. Setiap gantungan, setiap warna, setiap bentuk punya arti.
Dan karena identitas itu bisa berubah dalam hitungan minggu (tergantung FYP mereka), tren tas juga berubah super cepat.
Makanya model yang dulu keren, sekarang bisa tiba-tiba dianggap “cringe”. Bukan karena jelek, tapi karena udah nggak cerita tentang mereka lagi.
3 Model Tas yang Tiba-Tiba ‘Diharamkan’ Gen Z (Menurut Pengalaman Toko Gue)
Ini berdasarkan data penjualan toko gue dan obrolan dengan 10+ pemilik brand tas lokal lainnya.
1. Tas Mini Box (Structured Bag) Ukuran Super Kecil
Dulu model ini laris banget. Tas bentuk kotak kaku, ukurannya cuma cukup buat HP, dompet kecil, dan lipstik. Warnanya pun tipikal netral: beige, ivory, soft brown .
Gue inget banget, sekitar tahun 2023-2024, setiap kali gue post foto tas model ini, chat langsung masuk. Sebulan bisa habis 50-70 biji.
Sekarang? Gue jual diskon 50% pun sepi peminat.
Kenapa dihindari?
Karena Gen Z sekarang pindah ke dua arah yang berlawanan:
Pertama, mereka suka tas yang muat banyak. Setelah sekian tahun paksain bawa tas mungil yang cuma muat lipstik, mereka capek. Menurut laporan tren aksesori Vogue, tren spring 2026 justru beralih ke tas besar yang bisa muat laptop, baju ganti, dan segala isi dompet .
Kedua, kalau pun mereka pilih yang kecil, bentuknya nggak boleh kaku dan “intimidating” . Fashion stylist Adi Surantha bilang, Gen Z sekarang lebih suka tas yang desainnya nggak “menekan” — misalnya hobo bag yang bentuknya melengkung santai atau paper bag yang terlihat lebih effortless .
Jadi tas box yang kaku, tegas, dan super kecil? Udah ditinggal zaman.
Kasus spesifik: Teman gue yang punya brand tas di Bandung (sebut aja Tas Kita) masih punya stok 200 tas mini box dari produksi tahun lalu. Dia udah diskon 70%, baru laku 12 biji dalam 3 bulan. Dia bilang, “Gue kayak lagi megang batu bata. Nggak ada yang mau.”
2. Tas Slempang Kecil dengan Rantai Tebal
Ini nih yang bikin gue paling sakit hati.
Dulu model tas slempang dengan rantai panjang tebal itu hits banget. Warnanya silver atau gold. Biasanya dipakai sebagai crossbody atau shoulder bag. Harganya bisa sampai Rp400-500 ribu kalau modelnya branded.
Gue sempet produksi 100 biji untuk model ini. Habis dalam 2 minggu. Gue pikir, “Wah ini aman nih.” Langsung gue produksi lagi 200 biji.
Tebak berapa yang laku sampai sekarang? Kurang dari 30.
Kenapa dihindari?
Pertama, rantai tebal itu sekarang dianggap “norak” dan “terlalu ramai”. Gen Z beralih ke tas dengan siluet yang lebih bersih, kalem, dan crafted — bukan yang mencolok .
Kedua, cara pakai tas juga berubah. Sekarang yang tren adalah bag-on-a-belt — tas kecil yang diselipkan di sabuk, bukan digantung di bahu dengan rantai panjang . Ini cara baru yang lebih praktis dan terlihat lebih modern.
Ketiga, ada faktor “emotional comfort”. Gen Z sekarang suka tas yang “nyaman dipeluk”, bukan yang digantung dengan rantai dingin . Material lembut kayak butterlux atau fabric lebih disukai daripada kulit keras atau rantai metalik .
Gue sempet iseng nanya ke salah satu pembeli yang dulu doyan banget sama model rantai. Dia jawab, “Kak, sekarang mah pake rantai panjang keliatan kayak mau kondangan. Nggak cocok buat daily.”
Ya gue cuma bisa menghela napas.
3. Tas Berbahan Daur Ulang dengan Klaim “Eco-friendly” Tapi Desainnya Biasa Aja
Ini agak kontroversial, tapi gue jelasin baik-baik.
Dulu, sekitar 2023-2024, kata kunci “eco-friendly” itu jualan banget. Tas dari bahan daur ulang, dari kain perca, atau dari plastik bekas — apapun yang ada label “ramah lingkungan” — laris.
Gue ikut-ikutan bikin satu line produk dari bahan limbah kain. Laris juga awalnya.
Tapi sekarang? Sepi lagi.
Kenapa bukan karena “nggak peduli lingkungan”? Bukan gitu. Justru sebaliknya.
Gen Z sekarang lebih kritis. Mereka nggak cukup dikasih label “eco-friendly” doang. Mereka lihat desainnya dulu. Kalau desainnya biasa aja dan cuma ngandalin klaim lingkungan, mereka ogah .
Laporan dari News18 tentang pasar tas mewah 2026 bilang gini: konsumen modern (termasuk Gen Z) sekarang bersikap seperti curator, bukan sekadar collector. Mereka mau tas yang punya cerita, baik dari bahan, cara pembuatan, maupun desainnya .
Jadi tas daur ulang dengan desain generik? Nggak cukup. Mereka mau sesuatu yang architectural, sculpted, dan punya keunikan bentuk .
Selain itu, ada tren baru yang lagi naik daun: beaded bag atau tas manik-manik. Pencarian tas model ini meningkat 71% dalam tiga bulan terakhir . Ini menggabungkan unsur tradisional (manik-manik) dengan sentuhan modern. Dan yang penting, ini punya cerita budaya, bukan cuma klaim lingkungan yang generik.
Kasus spesifik: Seorang penjual tas daur ulang di marketplace cerita ke gue, “Dulu gue jual tas dari karung beras, laris setiap restock. Sekarang stok gue 3 bulan nggak bergerak. Gue tanya ke calon pembeli, mereka bilang ‘desainnya kurang estetik’.” Padahal bahan dan prosesnya sama persis.
Tanda Bahaya: Kapan Lo Harus Mulai Khawatir?
Buat lo yang punya brand tas, gue kasih red flag yang gue alami sendiri:
- Stok model tertentu mulai berdebu lebih dari 2 bulan tanpa diskon yang berarti.
- Engagement di postingan model itu turun drastis (like dan komen sedikit).
- Lo lihat kompetitor mulai diskon gede-gedean untuk model yang sama.
- Di grup seller, orang mulai jual lepas stok model itu dengan harga murah.
Kalau semua tanda ini muncul, segera tarik model itu dari etalase online lo. Jangan tunggu sampai lo rugi lebih parah.
Terus, Model Tas Apa yang Lagi Laris di Gen Z Sekarang?
Gue nggak mau cuma kasih tau yang “diharamkan” tanpa kasih solusi. Ini dia yang lagi dicari Gen Z saat ini (berdasarkan data penjualan toko gue dan riset tren):
1. Hobo Bag — Yang Lagi Naik Daun
Ini pemenangnya sekarang. Hobo bag itu tas dengan bentuk melengkung seperti bulan sabit, biasanya dari bahan lembut, dan cara bawaannya diselipkan di lengan atau bahu.
Kenapa laris?
Fashion stylist Adi Surantha bilang model ini “trennya agak bisa panjang” karena bentuknya yang santai tapi tetap terstruktur, dan cara membawanya yang “dikepit” bikin lebih aman dari copet . Gen Z suka karena terlihat effortless, nggak berlebihan, tapi tetep stylish.
Gue sendiri udah produksi dua varian hobo bag. Satu dari bahan canvas polos, satu lagi dari bahan rajut. Keduanya laris di kisaran harga Rp180-250 ribu.
2. Tas Besar (Oversized) yang Bisa Muat Laptop
Setelah bertahun-tahun maksa bawa tas mungil, Gen Z sekarang beralih ke tas besar. Vogue melaporkan bahwa tren Spring/Summer 2026 justru mengedepankan tas yang benar-benar muat semua barang: laptop, baju ganti, buku, bahkan sepatu cadangan .
Tips dari gue: Jangan bikin bentuknya terlalu kaku. Pilih material yang lentur kayak canvas tebal atau kulit sintetis yang lembut. Tambahin kompartemen dalam biar nggak jadi karung goni. Warna netral kayak hitam, coklat tua, atau khaki lebih aman.
3. Beaded Bag (Tas Manik-Manik)
Ini kejutan buat gue. Tadinya gue pikir tas manik-manik cuma buat acara formal atau liburan. Ternyata Gen Z pakai buat daily.
Datanya: Pencarian tas manik-manik naik 71% dalam tiga bulan terakhir . Ini karena manik-manik dianggap bisa menggabungkan unsur tradisional (budaya) dengan sentuhan modern. Plus, setiap tas manik-manik punya pola yang beda, jadi terasa eksklusif.
Gue lagi coba produksi beaded bag dengan motif batik sederhana. Target harga Rp300-400 ribu. Doain laris ya.
4. Tas dengan Gantungan (Bag Charms)
Ini bukan model tas baru, tapi cara menghias tas yang lagi tren.
Gen Z sekarang suka “merias” tas mereka dengan gantungan: boneka kecil, cherry, pita, bahkan benda random yang punya arti personal buat mereka . CNN Indonesia juga memberitakan tren “bag charm tour” ini sebagai bagian dari gaya hidup Gen Z .
Praktis tips: Lo nggak perlu bikin tas baru. Jual aja gantungan-gantungan lucu sebagai add-on. Dulu gue remehin, sekarang gantungan nyumbang 20% dari omzet toko gue. Gila.
Common Mistakes Pemilik Brand Tas (Termasuk Gue)
Dari pengalaman pahit, gue rangkum kesalahan yang sering terjadi:
- Terlaku percaya sama tren tahun lalu. Yang laris 2024, belum tentu laris 2026. Perputaran tren sekarang cepet banget. Gue masih punya stok dari tren 2024 yang sekarang cuma jadi pajangan.
- Produksi dalam jumlah besar sebelum nguji pasar. Ini yang gue lakukan untuk model rantai. Gue terlalu percaya diri karena best seller, langsung gedein produksi. Padahal cukup produksi 20-30 dulu buat uji respons.
- Nggak pernah ngobrol sama pembeli tentang preferensi mereka. Gen Z itu suka diajak ngobrol. Tanya mereka lewat Instagram Story, “Model tas apa yang lagi lo cari?” Lo bakal kaget sama jawabannya. Dan yang penting, mereka merasa dihargai.
- Cuma fokus ke model, lupa material. Material sekarang sama pentingnya dengan model. Gen Z mulai mindful dengan kenyamanan dan keberlanjutan . Tas wangi plastik murahan udah nggak laku.
- Terlalu keras kepala dengan “brand identity”. Gue dulu maksa banget buat tetep jual model-model lama karena gue pikir itu ciri khas brand gue. Padahal kalau nggak laku, brand identity lo nggak ada artinya. Fleksibel itu kunci.
Gue pernah dibilang sama seorang calon pembeli, “Kak, toko lo kayak museum tas jaman dulu.” Sakit. Tapi dia bener.
Practical Tips: Cara Menghindari Stok Mati
Gue kasih action plan buat lo yang nggak mau kejadian kayak gue:
Setiap Bulan: Analisis Data
- Cek produk yang paling sering dilihat tapi nggak dibeli. Itu tanda ada yang salah. Bisa harga, bisa model, bisa foto produk.
- Catat produk yang mulai sepi komen dan like. Itu early warning.
- Lihat kompetitor. Brand apa yang lagi naik? Model apa yang mereka jual?
Setiap 3 Bulan: Rotasi Stok
- Produk yang udah 3 bulan nggak laku → diskon 30-40%. Jangan sayang-sayang. Lebih baik balik modal dikit daripada simpan barang mati.
- Produk yang udah 6 bulan nggak laku → tarik dari toko online. Jual borongan ke reseller atau lewat live shopping dengan harga murah.
- Jangan beli bahan baku untuk model yang udah mulai sepi. Serius. Ini jebakan. Gue pernah beli bahan buat produksi lanjutan model yang ternyata udah mulai ditinggal.
Setiap 6 Bulan: Riset Tren
- Ikut pameran fashion kecil-kecilan. Lihat langsung yang lagi hits.
- Stalking feed fashion influencer yang targetnya Gen Z (bukan yang mainstream). Mereka biasanya lebih dulu pindah ke tren baru.
- Baca laporan tren dari sumber terpercaya kayak Vogue atau laporan industri .
Kesimpulan: Ini Bukan Akhir, Tapi Pelajaran
Keyword utama dari artikel ini: model tas yang dihindari Gen Z — dan gue nulis ini bukan buat bikin lo takut, tapi buat bikin lo sadar.
Tiga model yang sekarang dihindari:
- Tas mini box structured — diganti sama hobo bag atau tas kecil dengan siluet santai
- Tas slempang rantai tebal — diganti sama bag-on-a-belt atau tas dengan material lembut
- Tas daur ulang desain generik — diganti sama tas yang punya cerita (beaded bag, architectural silhouette)
Dan yang lagi laris:
- Hobo bag
- Tas besar (oversized)
- Beaded bag
- Gantungan tas (bag charms)
Gue tutup dengan satu pesan: Jangan terlalu cinta sama produk lo sendiri. Lo harus berani bilang, “Model ini udah mati, saatnya move on.”
Karena kalau lo nggak berani, pasokan barang mati lo bakal numpuk. Dan percaya deh, nggak ada yang lebih nyesek daripada lihat stok bertahun-tahun nggak laku cuma karena lo keras kepala.
Sekarang gue lagi fokus ke hobo bag dan beaded bag. Hasilnya? Lumayan. Setidaknya gue nggak tidur dengan mimpi buruk tentang gudang penuh tas mini box.
Sekarang giliran lo: Model tas apa yang masih lo produksi padahal udah mulai sepi? Atau lo punya pengalaman pahit soal stok mati? Share di kolom komentar, biar kita sama-sama belajar.
Gue tunggu ya. Jangan malu-malu, kita semua pernah salah